Buruh selalu benar dan Majikan selalu salah

Leave a Comment
buruh
Post kali ini akan membahas dampak demo dan kenaikan Upah buruh bagi perekonomian indonesia dari kumpulan kicauan @partaisocmed yang sedikit saya tambahkan dan edit agar mudah dalam membacanya dan Karena ada beberapa kata-kata yang cukup akademis yang sulit di cerna oleh orang awan maka saya akan menambahkan artinya di bawah artikel, jadi bagi anda yang kesulitan menerjemahkan sebuah kata tidak perlu buka kamus dan cukup liat di bawah artikel saja.
 
Oke langsung ke pembahasan tentang Dampak Kenaikan Upah Buruh Bagi Masa Depan Ekonomi Bangsa dan Masa Depan Buruh Sendiri.
kami akan coba mengulas manfaat dan mudharat dari DEMO BURUH
Pertanyaan mendasarnya adalah: “Apakah Usaha Demo tersebut Buruh Seimbang dengan Hasilnya?
 
Seringkali kita termakan dengan stereotype “sinetron” Buruh selalu benar & majikan selalu salah. Dalam hal ini buruh menjadi pihak yang teraniaya. Mari kita bahas secara jernih apa sesungguhnya yang terjadi pada “Perjuangan buruh” ini tanpa ada tendensi apapun.
 
Diawali dari lahirnya era reformasi di Indonesia yg menghasilkan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Sayangnya sebagai negara demokrasi kita tidak/belum memiliki infrastruktur yang cukup untuk mengawal jalannya proses demokrasi. Baik dari sisi peraturan, UU maupun pihak yang harusnya mengamankan jalannya sebuah negara madani bernama Indonesia. Akibatnya saat ini Indonesia bukanlah negara demokrasi yang beradab tetapi tidak lebih dari sekedar “Negara Populis” yang snob.
Bahaya terbesar negara yang terjebak menjadi negara populis adalah tidak memiliki visi jangka panjang yang jelas dan layak diperjuangkan bersama, Negara diombang-ambingkan pada kepentingan jangka pendek “Penguasa” yang tidak ingin elektabilitasnya terganggu,
 
Masalah nanti muncul konsekwensi jangka panjang yg merugikan semua pihak toh penguasa berikutnya yang akan kena getahnya
Contohnya; Kebijakan rejim Megawati untuk obral murah gas kita ke Cina sekarang getahnya dinikmati oleh rejim SBY.
Apakah rakyat akan menyalahkan Megawati? Tidak! Rakyat itu mudah lupa dan punya kecenderungan menghukum penguasa saat ini.
Contoh lain; Kebijakan “Mafia Berkley” di era Soeharto yang mengumbar hutang kepada negara lembaga asing dampaknya terasa hingga saat ini.
Apakah Soeharto disalahkan? Tidak! Rakyat lebih melihat di jaman pak Harto apa-apa gampang dan serba murah.
 
Kembali ke masalah perburuhan. Saat ini Serikat Pekerja memiliki “power” yang sangat besar dan tidak ada siapapun berani menentangnya.
 
Dengan stereotype sebagai pembela “pihak teraniaya” dan dukungan massa buruh yang punya daya pikir terbatas dan mudah dihasut, maka mereka menjadi kelompok otoriter yang apapun keinginannya tidak layak dihalang-halangi siapapun termasuk polisi. Polisi yang sudah dilemahkan oleh oleh isu HAM tidak lagi memiliki kekuatan menertibkan demo buruh atau demo anarkis apapun. Wajar saja, utuk apa harus ambil resiko keselamatan dan karir mereka sendiri demi jaga keamanan jika bergerak sedikit saja mereka kena kasus HAM? Bagi polisi, jauh lebih aman untuk bersikap pasif membiarkan anarkisme terjadi didepan mata. Toh periuk nasi keluarga mereka jauh lebihh penting
 
Bagaimana dengan para buruh sendiri? Benar mereka semua bertanggung jawab pada anarkhisme itu? Atau ada yang lebih memilih tetap bekerja?
 
Dari apa yang terjadi di lapangan ternyata sebagian buruh ikut demo karena takut, terpaksa atau dipaksa. Bgm tidak? Setiap menjalankan aksi demo ada perintah khusus dari oknum-oknum serikat pekerja untuk lakukan sweeping. Pabrik-pabrik yang buruhnya tidak ikut demo ditutup paksa, property-nya dirusak, buruhnya diancam bahkan ada yang benar-benar digebuki.
Inikah yang disebut negara hukum? Atau ini “negara mob” dimana pihak yg berteriak paling lantang yang dimenangkan?
 
Lupakan cerita sinetron SI KAYA vs SI MISKIN, itu hanya ada di dongeng. Realita yang terjadi seringkali si miskin pihak yang dzolim. Coba bayangkan nilai keadilan dari peristiwa ini, terlepas dari banyak juga pengusaha hitam yang mengeksploitir karyawannya. Tapi banyak juga pengusaha baik-baik yang berjasa untuk ekonomi bangsa ini. Ikut mengurangi angka pengangguran Keadaan ini tidak akan terjadi jika mekanisme penetapan upah buruh dibuat berdasarkan azas keadilan yang jelas. Sehingga tidak ada proses politisasi yang mempengaruhinya. Termasuk keinginan penguasa mencari muka pada rakyatnya.
 
Dengan menetapkan upah yang tinggi bagi buruh tapi pengusahalah yang harus membayar harga popularitas si penguasa tadi, Mari sekarang kita bahas apa yang bakal terjadi setelah semua ini.
 
Setelah melalui demo yang merugikan banyak pihak Termasuk sampai menduduki balaikota DKI dan membubarkan rapat yang sedang dipimpin Ahok. Akhirnya diputuskan Kenaikan upah menjadi Rp 2.402.400. Fantastis!! Lihat saja kenaikan umk untuk 3 tahun belakangan ini:
Th 2011 Rp 1.400.000 Th 2012 Rp 1.840.000 Th 2013 Rp 2.402.400
Kenaikan ini jauh melampaui tingkat inflasi!
 
Pertanyaannya apakah benar kenaikan ini akan menyejahterakan buruh? Atau justru akan menambah kesengsaraan mereka? Jawabannya YA!! Buruh justru akan semakin sengsara dengan kenaikan ini!
Bedanya yang akan ikut terbawa sengsara bukan hanya buruh tapi banyak pihak akan terseret sengsara karenanya. Tidak masuk akal? Ya, bagi buruh ini pasti tidak masuk akal. Kalo pintar mereka tidak akan jadi buruh bukan?
 
Tapi kami akan uraikan penjelasannya dengan bahasa yang paling sederhana. Bagaimana sesungguhnya buruh sudah diperalat habis-habisaan.
Bagi para buruh: kami ingatkan kicauan ini sama sekali bukan untuk mendiskredit buruh. Kebodohan itu bukan kesalahan tapi nasib (dan nasib bisa di ubah) :)
Tapi sebaliknya justru ingin mengangkat harkat, martabat dan kesejahteraan kalian.
 
Jangan sampai karena hasutan pihak yang melenakan justru berakibat bunuh diri bagi kesejahteraan kalian sendiri.
Mari kita bahas akibat dari kenaikan upah bagi kesejahteraan buruh, masyarakat dan ekonomi nasional pada umumnya.
dari sisi ekonomi makro dulu. Kenaikan upah yang sekonyong-sekonyong terlalu tinggi akan membawa dampak melonjaknya angka inflasi.
 
Artinya bisa dipastikan kenaikan upah akan diikuti dengan kenaikan harga barang2 dan jasa. Artinya angka rupiah yg lbh besar
Yang dibawa pulang para buruh tidak akan diikuti oleh peningkatan daya beli mereka. Bisa jadi justru penurunan daya beli,
Belum lagi secara psikologis, penambahan penghasilan otomatis akan diikuti oleh peningkatan gaya hidup oleh para buruh sendiri.
 
Nah! Sekarang tujuan para buruh ingin meningkatkan kesejahteraan atau sekedar menaikkan upah?
 
Kalo tujuannya meningkatkan kesejahteraan, kalian sudah salah besar! Kekecewaan terus menerus justru yang kalian dapat
Berapapun kenaikan upah buruh tidak akan meningkatkan kesejahteraan buruh! Karena selalu akan diikuti oleh kenaikan harga yang lebh tinggi
 
Belum lagi penderitaan yang diakibatkan dari kenaikan upah buruh ini. Coba bayangkan nasib mereka pedagang kecil, tukang ojek, Sopir taksi, pemulung, dll yang penghasilannya tidak ikut-ikutan naik tapi harus ikut menanggung akibat dari kenaikan harga-harga.
 
Apa para buruh dan dalangnya “pimpinan serikat buruh” mau menanggung dosanya? Anak-anak mereka juga butuh susu, makan 3x sehari. Lihat pula kerugian ekonomi bangsa yang diakibatkan dari rusaknya semangat berusaha di kalangan masyarakat.
 
Bagaimana orang mau belajar berusaha jika belum apa-apa harus gaji karyawan begitu besar?
Jujur saja, sebagian buruh ini pasti ada juga yang punya usaha kecil2an. Pertanyaannya apakah pekerjanya juga akan digaji sesuai UMK?
 
Bagaimana seseorg yang buka counter pulsa kecil-kecilan diharuskan bayar gaji pegawainya sesuai UMK? Untungnya aja tidak sampai segitu.
 
Dari sisi pengusaha pemilik pabrik. Siapa pengusaha yang mau diperlakukan seperti itu oleh karyawannya sendiri?
Oleh orang yang selama ini dihidupinya? Orang yang sebelumnya menganggur dan berkat usahanya kini dia bisa bekerja?
Orang yg dulu pernah memohon-mohon minta pekerjaan padanya degan nada yang memelas. Lihat saja surat lamaran mereka pasti ada kata “mohon”, Ingat para pengusaha ini menanggung resiko cukup besar untuk investasinya, sudah sepantasnya mereka menikmati hasil investasinya.
Sementara para pekerja tidak menanggung resiko, setiap bulan dapat gaji yang tetap yang suka tidak suka harus disediakan para pengusaha.
 
Dalam bisnis ada pepatah “High Risk High Return, Low Risk Low Return” dalam hal ini pihak yang menanggung resiko adalah para pengusaha itu.
 
Dari sisi penguasa, layakkah mereka menetapkan kenaikan upah buruh hanya berdasarkan kesepakat dengan pihak perwakilan buruh?
 
Lantas siapa yang harus membayar? Pemerintah atau pengusahanya. Apa jika pengusaha tdk mampu pemerintah akan menalangi sisanya?
 
Kelakuan penguasa kadang seperti “Makelar Sedekah”, mereka yang dapat namanya tapi orang lain yang keluar uang buat sedekahnya
 
Dari semua tulisan diatas kami berharap para buruh lebih bijak dan kritis dalam menyikapi ajakan demo dari serikat pekerja
Patut diduga itu hanya upaya memanfaatkan para buruh untuk tujuan-yujuan tersembunyi pimpinan serikat buruh tertentu
Untuk membuktikannya gampang saja. Coba perhatikan rumah aktivis serikat pekerja masing-masing apakah lebih mewah dari kost petak para buruh?
Lihat juga mereka sehari-hari pakai mobil apa? Bandingkan dengan para buruh yang harus desak-desakan naik kendaraan umum yang tidak nyaman
 
Jangan merasa menang dan senang dengan tercapainya perjuangan menaikkan upah minimum tersebut, Justru dalam keadaan apapun buruh selalu mejadi pihak yang dikalahkan oleh sistem. Apa artinya upah naik jika yang bisa dibeli justru berkurang?
 
Lantas bagaimana cara para buruh meningkatkan kesejahteraan? Jawabannya satu: BERHENTILAH JADI BURUH! (bisa juga jadi buruh tapi sambil investasi yang benar)
Sudah saatnya bertanggung jawab lebih besar kepada diri anda sendiri. Kesejahteraan anda adalah tanggung jawab pribadi anda bukan pihak lain.
 
Belajarlah untuk tidak menyalahkan sekeliling kalian atas nasib kalian para buruh. Belajarlah untuk menyalahkan diri sendiri
Tidak pernah ada ceritanya buruh bisa kaya(kecuali 1 atau 2 orang berkat investasi). Jika ingin sejahtera belajarlah ambil resiko dengan belajar membuka usaha sendiri.
 
Sekian dan terimah kasih, bila anda tidak suka tentang hal ini kami mohon maaf yee
 
 
 sekali lagi saya sampaikan efek jika gaji buruh terus naik yang diluar kewajaran
  • Jika gaji buruh terus naik, maka banyak pengusaha akan berpikir, Apakah tetap produksi, atau tutup, atau pindahkan ke kota/negara lain. bagaimanapun, pengusaha juga tidak bisa memaksa kalau orang yang mau dipekerjakan mintanya segitu.
  • Saat para pengusaha satu-persatu pindah, atau mulai menerapkan teknologi mesin, atau mengambil keputusan rasional yang dapat dipilih, maka akan berdampak kebutuhan buruh mereka akan berkurang drastis.
  • Banyak buruh akan kehilangan pekerjaan dan angkanya bisa signifikan. bagaimanapun buruh tidak bisa memaksa pengusaha merekrut mereka; pengusaha punya hak penuh. Yang tertinggal di perusahaan adalah buruh-buruh dengan kualifikasi tinggi, produktif, dengan gaji tinggi pula.
  • Buruh yang kehilangan pekerjaan, akan memikirkan solusi lain. Bisa menjadi wiraswasta, bisa bertani, dan jenis2 pekerjaan lainnya. Atau tetap jadi pengangguran, nafkah keluarga terhenti.
 
NB: arti kata:
snob : 1 orang yg senang meniru gaya hidup atau selera orang lain yg dianggap lebih daripadanya tanpa perasaan malu; 2 orang yg suka menghina dan meremehkan orang lain yg dianggap lebih rendah daripadanya; orang yg merasa dirinya lebih pintar dp orang lain
populis : penganut paham yg mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat kecil
mob: sekelompok orang (tanpa dukungan masyarakat) yg dng marah menyerang dan berusaha melukai atau merusak suatu objek tanpa mengindahkan norma sosial dan hanya berpegang pd pertimbangan yg sederhana stereotype : penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan
tendensi : kecenderungan; kecondongan (pd suatu hal): orang gemuk biasanya mempunyai -- untuk makan lebih banyak;
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Jika anda Ingin mengcopy artikel ini ke blog/situs anda harap atau di mohon dengan kerendahan hatinya umtuk  memberikan/mencantumkan sumber link aktif yang menuju ke artikel ini