Dilema saat memiliki gelar sarjana

Leave a Comment
kali ini saya akan sharing tulisan yang di buat pertengahan tahun 2012 dari wartaedukasi.subekti.com sayangnya situs tersebut sudah tidak aktif lagi.


Cerita ini berawal dari sebuah obrolan dengan seorang lulusan perguruan tinggi yang menyandang gelar S1.
Sebut saja namanya toyib (bukan nama sebenarnya). Dia lahir dan besar di sebuah kampung. Ketika lulus SMA, anggota keluarga sangat bahagia karena dia akan melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama. Pesta pun dilakukan sebelum dia merantau ke luar kota. Bahkan pesta juga dilakukan lagi ketika dia menyelesaikan studinya di kampus tersebut. Ternyata, di relung hati yang paling dalam toyib mengalami kesedihan yang luar biasa karena sampai beberapa waktu lulus kuliah, belum juga mendapatkan pekerjaan. Dengan panjang kali lebar sama dengan banyak, toyib bercerita beban yang dia alami setelah menyandang gelar sarjana tersebut.



Berikut kesimpulan yang saya sarikan dari diskusi tersebut:

1. Beban berat dengan orang tua

Dalam lubuk hati yang paling dalam, toyib sadar jika dia telah menghabiskan banyak uang orang tua untuk mendapatkan gelar sarjana tersebut. Namun sekian lama berselang, toyib masih belum mendapatkan pekerjaan yang bagus. Berbagai lamaran pekerjaan pun dikirimkan, namunya hasilnya nihil. Jika diterima, jenis pekerjaan yang ditawarkan jauh dari keahlian dan ilmu yang didapatkannya di kampus. Sebagai anak yang baik, toyib sadar jika tidak selamnya dia harus menggantungkan hidupnya dari orang tua. Pada suatu saat nanti, dia harus mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

2. Beban di hadapan masyarakat luas

Komentar miring tentang seorang sarjana yang mengganggur memang sering terdengar di masyarakat kita. Misalnya, "kenapa harus pusing-pusing kuliah mahal jika akhirnya juga sama - sama menganggur? Nampaknya masyarakat luas belum bisa menerima jika ada seorang sarjana belum bekerja. toyib pun mendapatkan komentar miring yang sama dari tetangga kanan dan kirinya.

3. Beban di depan calon pasangan hidup dan mertua

Semenjak semester akhir menjelang kuliah selesai, toyib telah menjalin hubungan yang baik dengan seorang cewek. Saat ini posisi cewek toyib jauh lebih beruntung, meskipun gajinya kecil sudah bekerja di kota kelahirannya. Karena usia sudah cukup dewasa, si perempuan sudah mengajaknya untuk berkeluarga. Ketika mendengar ajakan tersebut, toyib pun bingung bukan kepanyang. Bagaimana dia mau nikah kalau dirinya belum juga bekerja? Bagaimana dia akan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak? Bagaimana dia harus mempertanggung jawabkan di hadapan mertua jika dia mampu menghidupi anak perempuanya dengan layak? Terus terang toyib sangat galau pada waktu itu.


 dan Kesimpulan dari diskusi panjang antara toyib dan keluarganya adalah sebagai berikut :


1. diPerlu hati-hati dengan jurusan pilihan ketika kuliah. Yakinkan betul kita menguasai bidang ilmu tersebut dan mampu untuk mengkaryakannya. Tidak selamanya kita akan bekerja dengan orang lain. Ada kalanya kita harus mampu membuat lapangan pekerjaan sendiri berbekal ilmu yang kita dapatkan di bangku sekolah ataupun perguruan tingggi.


2. Perlu kita menyiapkan diri ketika kuliah dengan membangun jaringan relasi yang baik, terutama mereka-mereka yang memiliki lapangan pekerjaan. Jadilah mahasiswa yang aktif dan produktif membangun relasi ketika kuliah. Bergaulah secara luas, jika memungkinkan lebih mencoba mencari pekerjaan sampingan.


3. Jangan mengandalkan hanya ilmu yang didapat dari kampus karena persyaratan kerja memerlukan keahlian yang seringkali tidak kita pelajari dengan baik di kampus, seperti komputer dll.


4. Perlu disadari jika banyak dari kita menekuni pekerjaan yang seringkali keluar dari jalur disiplin ilmu yang dipelajari di kampus. Seorang mahasiswa lebih baik memiliki aneka macam kemampuan dan skills sebagai back up.


5. Jangan menyerah untuk mencoba mencari pekerjaan atau menyiapkan pekerjaan untuk dirinya sendiri dengan model berwiraswasta.


Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Jika anda Ingin mengcopy artikel ini ke blog/situs anda harap atau mohon dengan kerendahan hati untuk berikan/mencantumkan sumber link aktif yang menuju ke artikel ini . jika tidak maka akan di proses secara DMCA Takedown yang bisa berakibat buruk pada blog saudara. Sesama Makhluk hidup mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya